“Anak-anak, kita sudah sampai di Tanjung Papuma. Ibu beri
kalian waktu dua jam untuk menikmati indahnya tempat ini. Garis kuning di ujung
sana adalah batas kalian berpergian. Kalian tidak boleh melebihi batas itu.
Mengerti?” tanya Bu Ros.
“Siap,
bu!” jawab kami serempak.
Aku
memisahkan diri dari teman-temanku. Kamera sudah kukalungkan di leherku sejak
di bus tadi. Udara di sini sangat sejuk, banyak sekali batu-batu besar. Sungguh
objek alam yang indah. Aku menghirup napas dalam-dalam lalu aku mengeluarkannya
pelan-pelan. Tanjung Papuma, tempat yang saaaangat indah. Bu Ros benar.
Aku
membidik kameraku ke arah sebuah batu besar yang tengah dihantam ombak. KLIK.
Hasilnya bagus, warnanya terlihat natural. Ada kesan emosi di dalam foto yang
berhasil kuambil. Sasaran kedua ku adalah batu di sebelah utara dekat pohon
kelapa. 1... 2....
HEI!
Ada
seorang gadis di sana. Siapa dia? Ah, si cantik berlesung pipi. Rambutnya
tertiup angin sehingga memperjelas bentuk wajahnya yang oval namun pipinya
membulat. Sungguh cantik gadis itu. Tanpa banyak bicara, aku segera menekan
tombol kameraku.
DAPAT!
Aku
melihat hasil fotoku. Sungguh, ia cantik sekali! Cantiknya seperti bidadari
dalam kisah Jaka Tarub. Aku tersadar dan memberanikan diri menghampiri gadis
itu. Langkahku pelan, lututku sedikit gemetar untuk berjalan ke arah gadis itu.
Sepertinya gadis itu mendengar langkahku. Ia menoleh ke arah ku dengan seulas
senyum di bibirnya.
“Hai,”
sapaku saat itu.
“Hai
juga,” ia menjawab dengan suara yang, ah, terdengar lembut.
“Siapa
namamu?” aku memberanikan diri bertanya padanya.
“Aku
Rena. Rena Brawijaya. Kalau kamu?”
“Aku
Adhika Farandi Nugroho. Panggil saja Adhi,” tanpa disadari aku tersenyum.
Ia
tersenyum dan memandang ke arah laut. Sekali lagi, ia cantik sekali. Kulitnya
putih dan halus. Tingginya se-telingaku dan rambutnya lurus menjuntai
sebahunya.
“Kau
bersama siapa?” tanyaku lagi.
“Kak
Reno. Dia kakakku,” jawab Rena.
“Oh,
gitu. Mau jalan-jalan ke sana?” tanyaku sambil menunjuk ke arah selatan.
“Boleh..”
Aku pun
berhasil. Saat itu Rena berjalan di sisiku. Ia berkali-kali membetulkan
rambutnya yang tertiup angin. Ia juga sempat membetulkan flat shoes-nya yang
terkadang lepas dari kakinya yang mungil.
Tak
terasa hari sudah semakin sore.
“Astaga!
Udah jam lima, harusnya aku kembali ke tempat awal jam empat tadi,” saat itu
aku panik. Aku takut Bu Ros memarahiku.
“Kau
bersama orang tuamu?” tanya Rena tenang.
“Iya,
kenapa?”
“Hubungi
saja mereka. Bilang kau sedang bersamaku di sini dan mereka tak perlu
menghawatirkanmu,” jawab Rena dengan matanya yang menatap mataku. Aku sejenak
berpikir apakah ide itu adalah ide yang terbaik. Sebenarnya aku ingin kembali
bersama rombonganku, tapi aku lebih ingin bersama Rena, si gadis cantik
berlesung pipi itu. Akhirnya aku memutuskan untuk tinggal bersama Rena.
Sebentar saja.
“Baiklah!”
aku tersenyum kepadanya.
Aku
segera menghubungi orang tuaku sesuai apa yang dikatakan Rena. Aku bilang bahwa
aku akan kembali jam enam nanti. Kurasa, satu jam lagi sudah cukup, hehe.
Setelah itu, aku mengajak Rena untuk berfoto. Sayang sekali bila momen seperti
ini tidak kuabadikan. Sekali lagi aku tersentak melihat lengkung senyumnya.
Apakah ini bidadari yang Tuhan kirimkan untukku?
Comments
Post a Comment