Skip to main content

Singkat pada Tanjung Papuma (Part I)


“Anak-anak, kita sudah sampai di Tanjung Papuma. Ibu beri kalian waktu dua jam untuk menikmati indahnya tempat ini. Garis kuning di ujung sana adalah batas kalian berpergian. Kalian tidak boleh melebihi batas itu. Mengerti?” tanya Bu Ros.
                “Siap, bu!” jawab kami serempak.
                Aku memisahkan diri dari teman-temanku. Kamera sudah kukalungkan di leherku sejak di bus tadi. Udara di sini sangat sejuk, banyak sekali batu-batu besar. Sungguh objek alam yang indah. Aku menghirup napas dalam-dalam lalu aku mengeluarkannya pelan-pelan. Tanjung Papuma, tempat yang saaaangat indah. Bu Ros benar.
                Aku membidik kameraku ke arah sebuah batu besar yang tengah dihantam ombak. KLIK. Hasilnya bagus, warnanya terlihat natural. Ada kesan emosi di dalam foto yang berhasil kuambil. Sasaran kedua ku adalah batu di sebelah utara dekat pohon kelapa. 1... 2....
                HEI!
                Ada seorang gadis di sana. Siapa dia? Ah, si cantik berlesung pipi. Rambutnya tertiup angin sehingga memperjelas bentuk wajahnya yang oval namun pipinya membulat. Sungguh cantik gadis itu. Tanpa banyak bicara, aku segera menekan tombol kameraku.
                DAPAT!
                Aku melihat hasil fotoku. Sungguh, ia cantik sekali! Cantiknya seperti bidadari dalam kisah Jaka Tarub. Aku tersadar dan memberanikan diri menghampiri gadis itu. Langkahku pelan, lututku sedikit gemetar untuk berjalan ke arah gadis itu. Sepertinya gadis itu mendengar langkahku. Ia menoleh ke arah ku dengan seulas senyum di bibirnya.
                “Hai,” sapaku saat itu.
                “Hai juga,” ia menjawab dengan suara yang, ah, terdengar lembut.
                “Siapa namamu?” aku memberanikan diri bertanya padanya.
                “Aku Rena. Rena Brawijaya. Kalau kamu?”
                “Aku Adhika Farandi Nugroho. Panggil saja Adhi,” tanpa disadari aku tersenyum.
                Ia tersenyum dan memandang ke arah laut. Sekali lagi, ia cantik sekali. Kulitnya putih dan halus. Tingginya se-telingaku dan rambutnya lurus menjuntai sebahunya.
                “Kau bersama siapa?” tanyaku lagi.
                “Kak Reno. Dia kakakku,” jawab Rena.
                “Oh, gitu. Mau jalan-jalan ke sana?” tanyaku sambil menunjuk ke arah selatan.
                “Boleh..”
                Aku pun berhasil. Saat itu Rena berjalan di sisiku. Ia berkali-kali membetulkan rambutnya yang tertiup angin. Ia juga sempat membetulkan flat shoes-nya yang terkadang lepas dari kakinya yang mungil.
                Tak terasa hari sudah semakin sore.
                “Astaga! Udah jam lima, harusnya aku kembali ke tempat awal jam empat tadi,” saat itu aku panik. Aku takut Bu Ros memarahiku.
                “Kau bersama orang tuamu?” tanya Rena tenang.
                “Iya, kenapa?”
                “Hubungi saja mereka. Bilang kau sedang bersamaku di sini dan mereka tak perlu menghawatirkanmu,” jawab Rena dengan matanya yang menatap mataku. Aku sejenak berpikir apakah ide itu adalah ide yang terbaik. Sebenarnya aku ingin kembali bersama rombonganku, tapi aku lebih ingin bersama Rena, si gadis cantik berlesung pipi itu. Akhirnya aku memutuskan untuk tinggal bersama Rena. Sebentar saja.
                “Baiklah!” aku tersenyum kepadanya.
                Aku segera menghubungi orang tuaku sesuai apa yang dikatakan Rena. Aku bilang bahwa aku akan kembali jam enam nanti. Kurasa, satu jam lagi sudah cukup, hehe. Setelah itu, aku mengajak Rena untuk berfoto. Sayang sekali bila momen seperti ini tidak kuabadikan. Sekali lagi aku tersentak melihat lengkung senyumnya. Apakah ini bidadari yang Tuhan kirimkan untukku?

Comments

Popular posts from this blog

Bentuk Bahagia

  Gue sedang berada di sebuah coffee shop berlokasi di dekat rumah gue. Gue terbilang sering ke tempat ini entah hanya untuk bertemu dan ngobrol dengan teman-teman gue atau numpang buka laptop. Sore ini, gue berniat melamar pekerjaan ke beberapa perusahaan, jadi gue membawa laptop. Nggak lupa gue juga hubungin teman-teman gue via whatsapp siapa tahu mereka ingin bergabung. Biasanya kalau sudah agak malam baru kita ngobrol-ngobrol. Sambil membuka tab job portal , gue juga sambil iseng buka quora sekedar cari insight , atau menikmati tulisan-tulisan dari banyak orang. Lalu ada satu pertanyaan yang telah dijawab oleh quoranian yang membuat gue akhirnya menulis ini, yaitu tentang bagaimana laki-laki bisa bucin terhadap pasangannya. Kata kunci, bucin. Iya, bucin. Dengan melihat kata bucin, gue langsung teringat diri gue yang memang tergolong bucin ketika menjalin sebuah hubungan dengan seseorang. Karena prinsip gue ketika mencintai seseorang, gue akan memberi seluruh hati gue, diri...

Kepergianku Untuknya (fiksi)

Pagi ini cuaca sedikit berangin. Aku masih tetap menatap laki-laki berkaos abu-abu yang tengah duduk di bangku taman. Suasana hatinya tetap sama selama ini, mungkin karena ia belum menerima kepergianku. Bagaimana bisa aku benar-benar pergi bila ada yang belum mengikhlaskan kepergianku, ditambah lagi laki-laki itu seperti tak memiliki semangat hidup lagi.             Namanya Raka, ia suamiku. Lima bulan setelah pernikahan kami, aku mengalami kecelakaan. Mobil yang kukendarai menabrak sebuah truk yang melaju kencang dari arah barat, dan belakangan kuketahui bahwa sopir yang mengendarai truk itu dalam keadaan mabuk. Aku melihat mobilku dikerumuni banyak orang, kemudian mereka mengangkat tubuhku keluar. Saat itu aku sadar bahwa aku mungkin telah pergi. Aku ingin menangis saat melihat Raka mengguncang tubuhku agar aku bangun. Tapi tubuhku enggan merespon guncangan itu. Darah terus mengalir dari kepalaku, kemudian disusul oleh darah ya...

Ajari Aku

Setelah malam yang begitu panjang, kukira fajar adalah yang kutunggu Kupikir gusar bisa hilang dengan sendirinya Ternyata rindu tak bisa pergi begitu saja Aku telah kehilangan ia, yang tak mencintaiku sejak pertemuan pertama Nafsu dunia mengajarkanku sesuatu yang nyata Sedetik saja hasrat memeluk, air mata melepas diri dengan mudahnya Kehilangan ia tak pernah kupersiapkan Terbayang saja tidak ketika ijab-kabul telah sah sepenuhnya Karena akhirnya takdir yang berbicara Tak memiliki, namun kehilangan berkali-kali Ajari aku mengobati hati yang kelukur agar kembali genap Ajari aku mengikhlaskan tuan dalam sukma